Seorang teman saya melupakan nama seorang mahasiswi yang berpapasan dengannya, temannya di OSKM 05 dan sesama panitia OSKM 06. Teman saya tampak tidak nyaman dan terus memikirkannya sejauh perjalanan dari fakultas sipil sampai di gelap nyawang. Tetapi hal itu mungkin hanya satu kejadian lupa yang mengganggunya di hari tersebut. Bagaimana dengan orang-orang yang kisahnya baru saja saya lihat di salah satu acara tv berjudul living without memory, mereka mengalaminya seharian, dan setiap hari.
Debbie, Shelly, George,… ketiganya orang inggris. Mereka adalah person with different abilities yang mudah sekali melupakan apa saja. Jangan bayangkan mereka cukup pelupa jika “hanya” sering meninggalkan helm, atau lupa menaruh kunci motor. Kisah mereka mirip dengan pasangan main adam sandler di 50 first date bahkan lebih akut. Melihat kisah mereka akan membuat kita lebih mensyukuri atas karunia ingatan yang diberikan oleh-Nya.
Debbie adalah seorang mantan guru yang terkena radang otak hingga mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu. Ditampilkan di acara tv tersebut, Debbie diajak oleh ayahnya yang ingin agar anaknya mendapatkan suatu “pengalaman” untuk memotret kota dari atas helikopter. Debbie tampak sangat menikmati pengalaman barunya tersebut hingga merasa yakin dapat mengingatnya setidaknya dalam waktu 3 hari. Namun, otaknya berpendapat lain. 15 menit kemudian, setelah Debbie sampai di rumahnya dia telah lupa kemana tadi ia pergi ketika ditanya oleh ibunya.
Keterbatasan yang dimiliki Debbie juga dimiliki oleh Shelly. Shelly yang mulai hidup dengan keterbatasannya sejak usia 8 tahun ini tetap diajarkan untuk mandiri oleh kedua orang tuanya. Dia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri dengan bantuan jadwal sehari-hari yang dibuat oleh kedua orang tuanya. Jadwal sehari-hari yang dibuat sangatlah mendetil. Contohnya jadwal mandi. Alih-alih tertulis kata “mandi” di jadwal sehariannya, yang tertulis disana dimulai dari “membuka keran”, “berbaring”, ,”mengusap wajah”, “mengambil handuk”, dsb. Menurut ayahnya apabila instruksi yang diberikan tidak dibuat mendetil, Shelly hanya akan masuk kamar mandi kemudian lupa akan ngapain di dalam kamar mandi tersebut. Shelly juga telah diajarkan untuk dapat pergi sendiri dan membeli sesuatu di toko, namun hal tersebut tidaklah mudah. Butuh waktu 1 tahun bagi Shelly untuk menghafal rute dari rumah ke toko yang jaraknya hanya beberapa blok saja, dan Shelly masih saja dapat tersasar di depan rumahnya (yg seharusnya dari pintu rumah belok kiri, dia justru belok kanan). Di dalam toko juga merupakan perjuangan bagi Shelly untuk mendapatkan barang yang sesuai. Dengan banyaknya barang di toko tersebut, otaknya sering terganggu dan membuat Shelly mengambil barang yang seharusnya tidak dia beli (Di acara tersebut, tepat didepan pintu toko, Shelly diingatkan kembali oleh kameramen untuk membeli perangko , itupun Shelly keluar dari toko dengan sebuah buku tulis dan coklat). Namun disamping keterbatasannya tersebut, Shelly terus mendapat kepercayaan dari orang-tuanya yang terus mengajarkan Shelly untuk mandiri.
George seorang pensiunan yang kehilangan ingatan mengenai pernikahannya dengan istrinya 47 tahun silam. Istri george sering mengajaknya ke tempat yang seharusnya menjadi kenangannya saat muda, namun hal tersebut tidak membuat George ingat bahwa dia pernah mengunjungi tempat tersebut.
Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kehidupan Debbie, Shelly, dan George. Dengan keterbatasannya, mereka tidak pernah menyerah untuk berusaha mengingat walaupun itu sulit. Dengan sulit mereka akhirnya dapat menebak nama kameramen BBC yang terus menyorotnya dan berkenalan dengan mereka setiap harinya. Walaupun baru berhasil dalam tebakan kesekian, wajah mereka tampak sangat senang saat berhasil menjawabnya. Mereka juga menulis catatan harian untuk membantu ingatannya. Walaupun menurut pengakuan mereka, ketika membaca catatan harian mereka sendiri mereka bagaikan membaca sebuah cerita biasa tanpa perasaan pernah mengalaminya.
Cukup menyentuh juga bagaimana cerita mengenai orang disekitarnya dalam mendukung ketiganya. Disaat ketiganya ditinggalkan oleh teman-teman yang “dilupakannya”, keluarga mereka sangat mendukung dan tidak memperlakukan ketiganya sebagaimana orang sakit, justru memberi ketiganya perlakuan yang wajar. Disamping itu, diceritakan juga hubungan Debbie dengan sahabat lamanya, Nikky. Nikky terus menjadi sahabat Debbie yang menemaninya walaupun tahu Debbie akan terus melupakannya.
Kisah ketiga orang tersebut dapat kita membuat malu untuk mengeluh dengan hal yang seringkali kita jadikan beban, dimana mereka disetiap menit kehidupannya harus berfikir keras sekedar untuk hidup layaknya orang normal. Dan kita juga semakin sadar bahwa aktifitas kecil yang selalu kita sepelekan, ternyata suatu perjuangan bagi mereka dan sudah selayaknya kita sukuri. Semoga kisah mereka dan tokoh-tokoh didekatnya dapat menjadi inspirasi.

