Asumsi sangat diperlukan untuk mengambil sebuah keputusan. Seorang programmer yang akan membuat sebuah program dengan spek yang kurang lengkap dari pelanggan, diharapkan dapat menggunakan asumsinya sehingga program tersebut tetap dapat diselesaikan, tidak perlulah mengharapkan user memberitahu terlebih dahulu hal-hal teknis seperti berapa panjang karakter nama user, atau sebagainya karena semua itu dapat diselesaikan dengan berasumsi. Bahkan tukang nasi goreng juga dapat berasumsi, apabila pelanggannya memesan sebuah cap cay, yang dimaksud adalah cap cay berkuah dengan sayuran lengkap tidak perlu menanyakan satu persatu apa pelanggan ingin ada kol-nya, buncisnya, dsb.
Namun, yang namanya asumsi memang rentan dengan kesalahan, seorang sunda memesan es teh di warung jawa kemungkinan besar akan kecewa dengan teh yang disajikannya, karena asumsi pelanggan berlainan dengan asumsi pemilik warung. Di jawa, dengan memesan “es teh satu!” maka asumsi si penjual adalah satu pesanan es teh manis bukan teh tanpa gula seperti yang mungkin dimaksudkan oleh orang sunda tersebut. Nah lain lagi apabila asumsi dipraktekan dalam kegiatan berlalu lintas, maka hal tersebut dapat berbahaya.
Sabtu kemaren, Ewa berboncengan dengan temannya untuk berangkat maen futsal di obc dari kosannya di daerah dago. Masih satu jalan dengan tempat kosannya berada, mereka menabrak sebuah motor yang tiba-tiba berhenti di jalan tersebut. Sejak awal Ewa memang mengikuti racing line yang sama dengan motor didepannya, namun ketika motor didepannya melambat, dia hanya menyangka motor tersebut akan mengurangi kecepatan saja dan tidak sampai benar-benar berhenti. Hasilnya, motornya terjatuh dan kaki kirinya terpaksa diberi 8 jahitan. Lain halnya dengan Dudin. Jumat kemaren di daerah arah Mangga Dua, Jakarta, Dudin mengendarai mobil temannya berkelana di daerah yang kurang familiar dengannya. Di sebuah pertigaan jalan berjalur tiga, tampaknya sudah kesepakatan bagi orang2 di daerah tersebut bahwa jalur tengah dan jalur kanan jalan tersebut diperuntukkan untuk mobil2 yang akan berbelok ke kanan, sedangkan yang akan lurus hanya menggunakan jalur yang paling kiri saja. Dudin yang sebenarnya ingin berjalan lurus tidak mengetahui ‘kesepakatan’ ini dan menggunakan jalur yang paling kanan. Begitu lampu hijau menyala, ‘ckitt…. !!!’, sebuah pick up yang berada di jalur tengah tiba-tiba berbelok ke kanan memotong jalurnya dan hampir saja menabrak mobil yang dikendarainya. Pengendara pickup tersebut mungkin sadar bahwa Dudin tidak menyalakan lampu sen, namun berasumsi Dudin juga akan berbelok kekanan. Sedangkan Dudin berasumsi mobil pickup tersebut tidak akan berbelok kekanan dan memotong jalurnya karena lampu sen-nya juga tidak menyala.
2 kejadian yang cukup aktual tersebut cukup membuat saya untuk mengingat2 kembali beberapa asumsi yang saya gunakan saat berkendara. Mulai dari mengambil jarak terlalu dekat saat di jalan tol (dengan asumsi mobil depan tidak akan berhenti mendadak), berkendara di bahu jalan (asumsi kondisi jalan di bahu jalan sama baiknya dengan dibadan jalan), bermotor dengan ngebut di jalur kanan/marka jalan ketika jalanan macet (dengan asumsi tidak ada motor/orang menyebrang yang muncul secara tiba-tiba diantara 2 mobil yang macet), menoleh ketika mengemudi saat berbicara (tidak siap dengan kejadian2 yang tiba2), melanggar lampu merah dengan tidak hati-hati saat malam(menganggap jalanan kosong), dsb. 2 kejadian teman saya dari atas mencontohkan bahwa asumsi apapun yang digunakan saat berkendara akan berbahaya. Jadi, bagi yang masih sering berasumsi saat mengemudi seperti saya, bersyukurlah, karena hanya karena kehendakNYA (yang sering disebut kebetulan) asumsi tersebut menjadi benar dan menyelamatkan anda. Alhamdulillah.
