Mudik, Lebaran?

Sebagai anak dari campuran keturunan orang tua asli suku Sunda dan suku Jawa, sudah seharusnya saya menjaga ikatan dengan kedua tanah kelahiran saya tersebut. Minimal setahun sekali saya sangat berharap untuk dapat melakukan mudik, mengunjungi tempat dimana Ayah Ibu saya dibesarkan. Dan sebagaimana kebanyakan masyarakat indonesia, saya melakukan mudik khususnya di masa lebaran seperti saat ini.

Untuk saya pribadi, alasan terbesar yang menjadi pertimbangan dalam memilih waktu untuk ke daerah orang tua saya disaat lebaran, adalah karena adanya efisiensi dalam bersilaturahmi. Lebih dari sekedar mengikuti tradisi. Bersilaturahmi dengan keluarga besar adalah agenda yang sangat baik untuk dilakukan saat mengunjungi kedua tempat tersebut. Dan menurut ustad teraweh, ketika menjelaskan tentang hadist mengenai silaturahmi dengan keluarga, kegiatan tersebut memiliki skala kebajikan 24, lebih baik dibandingkan sedekah (10) dan meminjamkan uang (16). Padahal jika dipikir, kita sering merasa lebih berat untuk melakukan sedekah, dibandingkan silaturahmi yang menyenangkan.

Sedangkan efisiensi disini muncul karena biasanya di masa lebaran seperti inilah saya mendapatkan saudara-saudara saya yang tinggalnya menyebar di banyak kota, juga melakukan mudik. Sehingga yang diharapkan adalah, cukup dengan sekali mudik dan melakukan sekali silaturahmi, efeknya dapat diterima oleh banyak saudara sekaligus. Prinsip ekonomi sekali ya, hehe.

Saya beruntung memiliki dua kampung halaman untuk mudik. Ada masanya dimana setiap tahunnya saya sekeluarga turut menjadi satu dari ratusan ribu kendaraan yang memenuhi jalan-jalan lintas akdp (antar kota dalam pulau) di pulau jawa. Ya, jika diingat 3 tahun yang lalu atau lebih, keluargaku masih memiliki tradisi mudik dengan kendaraan dengan dua tujuan utama : Bandung atau sekitarnya(Sukabumi,Bogor), dan Surabaya. Rutenya pun cukup beraneka ragam. Tahun tertentu ke Bandung dulu, selainnya ke Surabaya dulu. Terkadang melewati pantura, terkadang melewati selatan jawa. Sudah cukup banyak kombinasi rute yang bisa didapatkan dari situ.

Karena sempat melakukannya rutin, kami cukup dapat melihat bahwa upaya yang diperlukan dalam melakukan ritual ini setiap tahunnya selalu monoton naik. Jika mengingat kembali ingatan tiga tahun kebelakang, dimana kami sekeluarga terakhir melakukan mudik menggunakan kendaraan pribadi, mudik lebaran tahun itu kami menghabiskan 11 jam untuk jalur Bandung-Cirebon saja. Padahal jika ditarik tiga tahun kebelakangnya lagi, dengan waktu yang hampir sama, kami masih dapat melakukan perjalanan langsung dari Bandung ke Semarang.

Kembali ke bahasan Efisiensi. Efisiensi merupakan fungsi yang didapatkan dari nilai efektifitas yang kita dapat. Namun, efisiensi juga berbanding terbalik dengan upaya yang dikeluarkan.  Jika dihitung ulang, apakah benar efisiensi silaturahmi masih tercapai melalui mudik saat lebaran. Toh, akhirnya kita juga terpaksa menghabiskan waktu beberapa hari selama di perjalanan, energi untuk menyetir, kenyamanan selama di perjalanan, dan biaya yang berkali lipat lebih mahal. Dan kalau memang efektifitas dalam silaturahmi terjadi karena adanya konvensi antara saudara, yang mudik di satu waktu yang bersamaan, apa yang menghambat kita untuk tidak merubah ritual ini di waktu yang lain saja? Sebagaimana suku Madura yang justru melakukannya di idul Adha.

Jawabannya pasti sangat beragam, terlalu banyak faktornya. Namun jika dipersempit dengan hanya melihat faktor upaya yang akan dikeluarkan. Tampaknya kebanyakan pemudik di negeri ini masih berfikir bahwa upaya yang dikeluarkan masih sepadan dengan menjaga tradisi ini dilakukan di hari lebaran, dengan alasannya masing-masing.

Untuk keluarga besar yang pemudiknya terbiasa menggunakan pengguna transportasi umum (apalagi pengguna jalur udara, apalagi lagi yang mendapat tiket murah :D ), upaya untuk berkumpul di kampung halaman, memang tidak menaik terlalu pesat setiap tahunnya. Tapi bagi keluarga besar di Jawa yang kebanyakan dari anggota keluarganya adalah pengguna jalan darat, tampaknya perlu mempertimbangkan kemungkinan untuk melakukan perjalanan mudik bukan pada saat lebaran. Itulah mengapa di tahun ini keluarga besar saya di Surabaya, baru akan berkumpul di tanggal 9 September.

Advertisement

One Comment (+add yours?)

  1. Asop
    Sep 02, 2011 @ 04:30:48

    Maap lahir batin, ya… :cool:

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.