Perjalanan ke Jatim : Bromo, BNS, Secret Zoo. (part 1)

25 Jan

Assalamu’alaikum…

Seperti yang telah dijanjikan pada tulisan sebelumnya, saya akan merapikan blog ini dengan berbagi tulisan. Tulisan ini tentang perjalanan saya bersama teman-teman DKA Comlabs ke Jawa timur.

11 Januari.. Entah apa sebabnya, sejak saya kuliah di Bandung, seringkali dihabiskan dengan jalan-jalan. Jika sebelumnya saya sudah pernah 11 Januari-an ke : Kawah Putih, Jayagiri, dan Sukabumi. Tahun ini, tanggal 11 januari saya melakukan perjalanan ke Jawa Timur bersama 6 orang teman.

Ada 2 tujuan utama dari perjalanan ke Jawa Timur kali ini, Batu dan Bromo. Batu adalah kota yang berbatasan dengan Malang. Kata teman saya, Batu sekarang menjadi kota yang sangat terkenal berkat visi walikota periode 2002-2007 yang memfokuskan kota Batu menjadi kota wisata. Beliau hanya menjabat selama 5 tahun, namun sudah cukup menjadikan imej Batu sebagai kota wisata mudah ditangkap. Batu saat ini memiliki objek wisata beragam, alun-alun kota yang modern, dan toko oleh-oleh serta penginapan yang tersebar.

Sedangkan Gunung Bromo adalah gunung yang sudah sangat terkenal. Ciri khas gunung ini adalah berdiri di tengah hamparan padang pasir yang luas. Gunung bromo merupakan gunung yang muncul akibat pembentukan kaldera. Tepatnya berada di kaldera Tengger. Tengger merupakan daerah pegunungan yang berada persis di utara gunung Semeru, puncak tertinggi di pulau Jawa. Karena itu daerah Tengger-Semeru ini bisa dibilang merupakan must-visit-destination untuk kategori wisata pegunungan.

Selain terdapat gunung semeru dan gunung bromo yang menjadi tujuan utama wisata, di daerah Tengger-Semeru juga terdapat beberapa gunung objek wisata alam lainnya seperti ranu Pane, ranu Regulo, air terjun Madakaripura, gunung Pananjakan, Lembu, dan Lingker. Namun karena keterbatasan waktu, kami hanya ke gunung Pananjakan dan Bromo.

Untuk wisatawan yang berangkat dari Bandung seperti kami, terdapat pilihan menggunakan kereta atau pesawat dengan tujuan Kota Malang. Selanjutnya kota Batu dapat ditempuh sekitar 30 menit perjalanan darat dari Malang. Namun kami bertujuh memilih menggunakan transportasi mobil pribadi. Selain lebih hemat, kami juga bisa transit dan menikmati suatu kota-kota yang kami lewati. Namun pilihan ini memiliki tantangan tersendiri bagi yang bisa menyetir… 😛 Kami berangkat jam 20.00 dari Bandung dan sampai di “penginapan” kami di Pasuruan jam 21.00 keesokan harinya.

Selama perjalanan kami sempat mampir makan malam di Sumedang. Kemudian sholat subuh di mesjid dekat pantai di Semarang. Mampir di mesjid Demak untuk mencari sarapan – tidak jadi karena turun hujan- akhirnya sarapan di warung soto kudus di Kudus. Lalu mandi & jumatan di mesjid agung Tuban. Wisata kuliner nasi krawu di Gresik. Dan ke mesjid agung Al-akbar Surabaya.

Jadi lebih mirip wisata religi, hahaha.

74605_580196008663392_852672648_nsoto kudus

tubannasi krawu

[Mesjid Demak – Soto Kudus – 
Mesjid Tuban – Nasi Krawu]

Perjalanan ke Mesjid Al-Akbar awalnya sekedar menjemput Arief di terminal Surabaya, teman kami yang tinggal di kota Batu. Mesjid Al-Akbar terletak berdekatan dengan terminal tersebut. Namun, ternyata mesjid ini cukup menarik untuk dikunjungi saat berwisata.  Dengan ukuran yang luar biasa besar dan kubah raksasa yang dicat berwarna cerah, arsitektur mesjid ini tampak lebih menyerupai mesjid modern di daerah Arab ketimbang mesjid agung “tradisional”. Dengan arsitektur yang berbeda tersebut, tempat ini banyak dimanfaatkan wisatawan untuk mengambil foto. Disini juga terdapat menara mesjid setinggi 99 meter yang dapat dinaiki (kebetulan saat kami datang sedang ditutup). Sedangkan untuk wisatawan “ransel”, mesjid ini memiliki kamar mandi yang mewah sehingga cocok dijadikan tempat singgah untuk mandi dan cuci-cuci.

masjid agung

[Di halaman Mesjid Al-Akbar, Surabaya]

Setelah menjemput Arif, sehabis sholat maghrib, kami meneruskan perjalanan ke Pasuruan. Pasuruan adalah kota pantura terakhir yang kami lewati, sebelum berbelok ke arah Selatan ke jalan menuju pegunungan Tengger. Di Pasuruan kami singgah makan di warung lesehan pak H.Soleh. Rencana awal kami setelah singgah makan malam adalah mencari penginapan di daerah Tengger. Selanjutnya, kami akan beranjak dini hari dari penginapan kami, untuk menikmati sunrise yang paling baik dilihat di pegunungan. Ternyata kami selesai makan lewat pukul 10 malam, terlalu larut.Dengan waktu yang sudah larut, kami hanya akan beberapa jam saja di penginapan. Alhamdulillah, di warung lesehan tersebut kami malah dipersilahkan menginap. Walau ditemani nyamuk yang tampaknya sudah imun terhadap lotion penangkal nyamuk (Autan).

lesehan

[Lesehan warung H.Sholeh tempat kami makan 
dengan-porsi-jumbo dan menginap]

Jam 2 malam kami terbangun dan melanjutkan perjalanan ke gunung bromo. Sekitar 45 menit  perjalanan ke Cemoro Lawang. Dapat juga kita memarkir kendaraan di tempat parkir bis, sekitar 30 menit perjalanan dari warung H.Sholeh, dan melanjutkannya dengan jeep. Jeep dari sini sekitar 150-200rb lebih mahal dibandingkan jeep di Cemoro Lawang. Harga tersebut disesuaikan dengan kondisi jalan di 15 menit terakhir perjalanan ke Cemoro Lawang yang memang cukup terjal dan berbatu. Jadi sesuaikan saja kondisi supir, mobil dan muatan anda dengan alternatif yang anda pilih.

Sampai di Cemoro Lawang, kami menyewa jeep untuk menikmati sunrise di gunung penanjakan 2, dilanjutkan ke gunung bromo. Harga untuk menyewa jeep berkapasitas 7 orang  adalah Rp.350.000. Alternatif lainnya adalah menggunakan ojek dengan harga Rp.50.000 per motor. Alternatif ini lebih murah karena satu motor bisa digunakan untuk 2 penumpang. (tapi sepertinya belum termasuk asuransi) Disini, yang perlu diperhatikan adalah terdapat 2 spot di gunung Penanjakan : Penanjakan 1 & penanjakan 2. Penanjakan 1 adalah spot yang lebih tinggi dan lebih ideal untuk menikmati pemandangan kaldera Tengger. Namun, kami diberi tahu bahwa penanjakan 1 saat itu sedang berkabut dan tidak bisa menangkap pemandangan apapun dari tempat tersebut. Kondisi di penanjakan 2? Ternyata sama saja berkabutnya. 🙂

dsc06763

[Daripada memasang foto kabut, saya carikan 
view penanjakan 2 dari mesin pencari]

Setelah kembali ke Cemoro Lawang untuk sholat subuh, kami langsung ke gunung Bromo. Gunung bromo ini menawarkan pemandangan yang sangat indah. Sedangkan kegiatannya standar : foto-foto, tracking ke puncak, eksplorasi padang pasir sekitar, kembali ke jeep. Jadi daripada bercerita panjang lebar, lebih baik langsung melihat foto-foto yang sempat saya ambil ini.

Camera 360Camera 360

Camera 360Camera 360

[Sedikit pemandangan di Bromo]

Kurang lebih seperti itulah 2 hari pertama perjalanan wisata kami ke jawa timur. Cerita malam hari ke-2 hingga hari ke 4, yang banyak dihabiskan untuk menikmati kota Batu dan kota-kota Pantura saat perjalanan pulang, akan saya lanjutkan pada tulisan selanjutnya. Selamat Malam.

Kunjungan ke Blog

24 Jan

Assalamu’alaikum..

Selamat hari maulid nabi 1434 H.

Dan selamat hari pertama longweekend untuk yang merayakan. Gimana sudah ada rencana untuk liburan ini?

Salah satu target longweekend saya kali ini adalah “bersih-bersih”. Baru saja saya selesai mencuci motor dan sepeda yang ada dirumah. Kamar juga sudah bersih dari kertas-kertas yang tidak berguna. Sekarang saatnya saya bersih-bersih “vila”.

Ya,, saya punya “vila” loh.

Sejak memulai blog ini saya belum pernah konsisten untuk mengisinya dengan tulisan-tulisan.Kalau diibaratkan dengan tempat tinggal, blog ini bisa dianggap sebuah vila,sebuah tempat tinggal di daerah rural yang hanya disinggahi pemiliknya disaat liburan. Karena itu, jangan heran kalau melihat blog ini kosong. Karena begitulah vila, tidak ada yang ditinggali pemiliknya setiap saat… 🙂

Untuk bersih-bersih ala vila unik yang satu ini, caranya adalah dengan mengisinya dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Tujuannya agar vila ini makin kinclong dan enak dilihat.

Maka nantikan hasil bersih-bersih blog ini.

I am an OWL… Wise and Calm.

26 Sep

Just done Jungian Personality test. My result is INTP :

INTP’s have great precision in thought and language. Can readily discern contradictions and inconsistencies. They are good at logic and math and make good philosophers and theoretical scientists. 1% of the total population.

INTPs lack follow-through and this can isolate their ideas from practical examination. Their notions become over-intellectualized and too abstract to be of practical benefit. With their sharp critical thinking and analytical abilities, INTPs tend to nit-pick, hair-split, and generally overdo simple issues. Their desire for accuracy and precision exacerbates any error they may perceive in themselves or in others — they are, in other words, highly self-critical. Wanting to be competent and know everything, their standards grow increasingly higher. When fear of failing becomes overly pronounced, INTPs are quick to feel unintelligent, slow, and powerless.

If stress continues, the INTP’s mind seems to freeze and block out the vital information it has worked so hard to accumulate. Their creative juices stop flowing and they suffer from stage fright, writers block, and a general inhibition of their ingenious thinking and fluent language skills. Preoccupied with performance failure, INTPs become self-consciously distracted in anticipation of their failure. If the stress becomes too overwhelming, the fear of blanking out prevents them from taking risks in areas they desire to succeed in. Attempting to avoid incompetence, they fail to gain the expertise and mastery they so desperately need.

Life Rearranged.

23 Aug

Being twenty something these days is not easy. You must fight for anything in your life choice. Check your parent`s social life, then see yours. These day more type of persons than in the past you can meet. Everyone is connected by technologies. It means, more in EVERYTHING. You wants to find a job, you wants to success, or you wants to find good wife… You must win it over more competitors.

Twenty something are the year when you graduated from the collage, get degree and then you thinking, “What`s next?”. We have more choices these day. Choices bring opportunities. And opportunities bring expectations. Why? Because the freedom has paradox. When we have freedom to choose, we always want the best choice, yup, that is expectation. Then, if we are not satisfied, we start blaming ourself for choosing that choice. P.S:There is a TED video about this.

Okay, now you know where this note going. I will start my long (insignificant) story. It has a point, but too many ‘curhat’. 😀

As student, i had a really easy life. I got my three-point-something GPA in my undergraduate, and that was not the best of me. Maybe i just put half-effort to get that. I am not lazy, i just not very determinate. Don’t get wrong, i am not ‘given’ student. As in high school, once time i got bottom two in my class rank, and i am okay. No one ever expecting me to reach something. I study only because it seems right.

Those days, i am a  ‘right now’ person. As long i having fun right now, i am fine. I also have very low expectation about the live, because i think i can still be fun in any condition, stupid thinking. My sensory of crisis was not developed in my early life. 😀

After graduation, i became so confused. Like i said in the first paragraph, graduation means more choices and i am not sure about what will i do in my life. I live in doubt, i am not focus, i learned little of too many things. Those days, seeing how my collage friend became, brought very much pressure to me. Some doing social program, some continue their study, some get decent job, some go aboard, some had family, etc. And in my mind, my life is nothing compared to them. I set my expectation so high. That time desperately need something to make me feel better. That was the first time i have my expectation of myself. It was in mid 2011.

On my desperation, i felt that everything in my life are not good enough for me. My job, my colleagues, the company i found, my master program, my girlfriend, even my parent, just all. All that year, i raise my expectation on everything, but i wasn’t ready. I became more egoistic than ever, i get bored easily, sometime i didn’t want to works on something just because it felt not worth it. i have set my goals so high, to get my (predicted) failures. But, i cannot lower my goals that time, because it will not helping me to get my esteem back.

I failed many times on late 2011. I wasted my job interview, i broke with my girlfriend, failed in my luxury project and got my contract terminated, just because i am so demanding. And, i take the failures the worst way. After the failures, i feel more worthless than ever, i only wants to ran away. I becomes so lazy and paralyze  I feel my life was so damaged, that can not be fixed. So, why bother to fix that? From egoistic, i became pessimistic and depressed.

That is my depression in end of 2011. That was when i was 23 years old. Quarter-life-crisis they said. 😛

End of curhat,

And this is what i got from that moments, about 1 year later.

So that i lived in two parts of my life, very low expectation in most of my life and very high expectation on 2011. Both have positive and negative aspect. I lived in high expectation then got stressed. So, the expectation can easily make us down, that surely the negative aspect. So, what is the positive aspect of high expectation? Expectation is one of our driven, that is our fuel to achieve success.

The thing is, i think, it is not really the expectation that drive us. It is the evaluation. And with high expectation, we constantly compare our expected target with reality. Then it became automatic evaluation. People with low expectation don’t have this mechanism. But, there are many ways to evaluate.

Evaluation is very important. All of the role in our life need to re-evaluate constantly. Japanese get they success with their “Kaizen”, the continuous improvement, that using evaluation. Or remember hadits we (moslem) have, “Today must be better than yesterday”, that is evaluation.

Evaluation is must be applied in each of our role. So, i begin from defining mine. Defining what my roles are very important, so i never get confused again like before. So, what am i? I am a muslim, a student (for next 2 month :P), a transportation Enthusiasm, a child of my parent, a friend for my friends, a neighbor, an entrepreneur, an IT engineer, etc. Then, lets make a better of each one.

For example as a student. If today i study 20 hours a week, i can set a target 25 hours a week for next month. Another example is as an entrepreneur, i can set a target to join an enterpreneur seminar within two months. Remember the target is for our evaluation, not the expectation. So, you can change it, just keep it feasible. But don`t cheat, do improvement! 😀

So, now i prefers to keep everything in low expectation. It fitted me more. I choose to driven by focus on my roles and aware that i need to be a better of thats. Do that just because it is the right thing like before. It better if , i do everything for the Sake of Allah. It`s the best since it will brings the success of dunya and also akhira. 🙂

For me, i hope this note will reminds me to keep my expectation down and remember that i don’t need to doing something to impress anything or anyone (right now i start to comparing my life again). All i need is to do is focus to become a better person. I need to more grateful, start viewing only the positive side again. And get rid most of thoughts from my mind, stop thinking the others! Doing my best, and evaluating.

Satu

6 Feb

Halo, apa kabar semuanya?
5 bulan… Lama juga ya sudah meninggalkan blog ini.
Mudah-mudahan bukan karena merasa tidak ada yang seru lagi di 5 bulan ini.

Oh iya, mumpung ingat saya mau berbagi kabar baik nih. Seminggu yang lalu tgl 28 Januari kakak saya satu-satunya resmi menjadi suami, udah bisa ganti statusnya di ktp maupun fb. Hmm, sebenarnya kali ini saya mulai nulis lagi sedikit banyak ada hubungannya sama kejadian tersebut. Jadi “oh iya,” didepan paragraf ini bukan ekspresi kaget, melainkan sekedar kata sambung. 😀

Diriku pernah niat ngasih tulisan ke kakakku buat kado nikahannya. Niatnya mau sekarang dibikin, pas buka notepad, malah kepikiran bikin puisi (padahal ga pernah bikin puisi). Dan jadinya seperti ini :

Manusia, Balon dan Layang-layang.

Ada 3 macam zat di alam semesta, padat, cair, dan gas.
2/3 bagian dari manusia adalah air,
maka perlakukanlah seperti air.

Aku bisa memperlakukan dirimu sebagai gugusan kohesi yang kuat,
Namun perlu diingat, itu hanya sebagian kecil dari dirimu.
Lihatlah balon, benda yang ingin menjadi padat.
Sedikit hentakan dengan benda padat lainnya dan puff…
Kamu hanya sedikit lebih baik dari balon.

Aku juga bisa membuatmu untuk melayang,
Tetapi dirimu bukanlah seutuhnya gas,
dan kamu akan selalu terjatuh setelahnya,
seperti layang-layang.

Aku seharusnya mudah membuatmu seperti air,
yang dapat berubah bentuk sesuai lingkunganmu.
Tidak malah berharap akan padatmu, untuk merubahnya.
Juga, tidak berharap pada gasmu, yang menentramkanmu.

2/3 air, sisanya cair dan gas.
Itulah komposisi yang pas.
Pas Mantab.

Hanip

100% OOT sama yang tadinya mau dibikin, bwahahaha.

Salahkan film finding forester, yang menyuruh kita menulis dengan hati bukan dengan pikiran. *halah*

Mudik, (haruskah saat) Lebaran?

30 Aug

Sebagai anak dari campuran keturunan orang tua asli suku Sunda dan suku Jawa, sudah seharusnya saya menjaga ikatan dengan kedua tanah kelahiran saya tersebut. Minimal setahun sekali saya sangat berharap untuk dapat melakukan mudik, mengunjungi tempat dimana Ayah Ibu saya dibesarkan. Dan sebagaimana kebanyakan masyarakat indonesia, saya melakukan mudik khususnya di masa lebaran seperti saat ini.

Untuk saya pribadi, alasan terbesar yang menjadi pertimbangan dalam memilih waktu untuk ke daerah orang tua saya disaat lebaran, adalah karena adanya efisiensi dalam bersilaturahmi. Lebih dari sekedar mengikuti tradisi. Bersilaturahmi dengan keluarga besar adalah agenda yang sangat baik untuk dilakukan saat mengunjungi kedua tempat tersebut. Dan menurut ustad teraweh, ketika menjelaskan tentang hadist mengenai silaturahmi dengan keluarga, kegiatan tersebut memiliki skala kebajikan 24, lebih baik dibandingkan sedekah (10) dan meminjamkan uang (16). Padahal jika dipikir, kita sering merasa lebih berat untuk melakukan sedekah, dibandingkan silaturahmi yang menyenangkan.

Sedangkan efisiensi disini muncul karena biasanya di masa lebaran seperti inilah saya mendapatkan saudara-saudara saya yang tinggalnya menyebar di banyak kota, juga melakukan mudik. Sehingga yang diharapkan adalah, cukup dengan sekali mudik dan melakukan sekali silaturahmi, efeknya dapat diterima oleh banyak saudara sekaligus. Prinsip ekonomi sekali ya, hehe.

Saya beruntung memiliki dua kampung halaman untuk mudik. Ada masanya dimana setiap tahunnya saya sekeluarga turut menjadi satu dari ratusan ribu kendaraan yang memenuhi jalan-jalan lintas akdp (antar kota dalam pulau) di pulau jawa. Ya, jika diingat 3 tahun yang lalu atau lebih, keluargaku masih memiliki tradisi mudik dengan kendaraan dengan dua tujuan utama : Bandung atau sekitarnya(Sukabumi,Bogor), dan Surabaya. Rutenya pun cukup beraneka ragam. Tahun tertentu ke Bandung dulu, selainnya ke Surabaya dulu. Terkadang melewati pantura, terkadang melewati selatan jawa. Sudah cukup banyak kombinasi rute yang bisa didapatkan dari situ.

Karena sempat melakukannya rutin, kami cukup dapat melihat bahwa upaya yang diperlukan dalam melakukan ritual ini setiap tahunnya selalu monoton naik. Jika mengingat kembali ingatan tiga tahun kebelakang, dimana kami sekeluarga terakhir melakukan mudik menggunakan kendaraan pribadi, mudik lebaran tahun itu kami menghabiskan 11 jam untuk jalur Bandung-Cirebon saja. Padahal jika ditarik tiga tahun kebelakangnya lagi, dengan waktu yang hampir sama, kami masih dapat melakukan perjalanan langsung dari Bandung ke Semarang.

Kembali ke bahasan Efisiensi. Efisiensi merupakan fungsi yang didapatkan dari nilai efektifitas yang kita dapat. Namun, efisiensi juga berbanding terbalik dengan upaya yang dikeluarkan.  Jika dihitung ulang, apakah benar efisiensi silaturahmi masih tercapai melalui mudik saat lebaran. Toh, akhirnya kita juga terpaksa menghabiskan waktu beberapa hari selama di perjalanan, energi untuk menyetir, kenyamanan selama di perjalanan, dan biaya yang berkali lipat lebih mahal. Dan kalau memang efektifitas dalam silaturahmi terjadi karena adanya konvensi antara saudara, yang mudik di satu waktu yang bersamaan, apa yang menghambat kita untuk tidak merubah ritual ini di waktu yang lain saja? Sebagaimana suku Madura yang justru melakukannya di idul Adha.

Jawabannya pasti sangat beragam, terlalu banyak faktornya. Namun jika dipersempit dengan hanya melihat faktor upaya yang akan dikeluarkan. Tampaknya kebanyakan pemudik di negeri ini masih berfikir bahwa upaya yang dikeluarkan masih sepadan dengan menjaga tradisi ini dilakukan di hari lebaran, dengan alasannya masing-masing.

Untuk keluarga besar yang pemudiknya terbiasa menggunakan pengguna transportasi umum (apalagi pengguna jalur udara, apalagi lagi yang mendapat tiket murah :D), upaya untuk berkumpul di kampung halaman, memang tidak menaik terlalu pesat setiap tahunnya. Tapi bagi keluarga besar di Jawa yang kebanyakan dari anggota keluarganya adalah pengguna jalan darat, tampaknya perlu mempertimbangkan kemungkinan untuk melakukan perjalanan mudik bukan pada saat lebaran. Itulah mengapa di tahun ini keluarga besar saya di Surabaya, baru akan berkumpul di tanggal 9 September.

Solo Hiking – 23 Juni 2011

26 Jun

Setiap orang pasti memiliki jiwa Bolang (bocah petualang) dalam dirinya. Sekedar berpetualang untuk mengisi waktu, mencari pengalaman, atau alasan lainnya. Dan malam Jumat kemarin, jiwa Bolangku telah memanggil untuk hiking ke puncak tangkuban perahu, sendirian. :D.

Tahu film 127 hours, film itu mungkin yang menginspirasi pertama kali untuk melakukan solo hiking. Di film yang diangkat dari kisah nyata itu, pemeran utamanya melakukan solo hiking.
Menonton film tersebut dan ikut merasakan kisahnya, menimbulkan perasaan yang berbeda dengan hiking yang pernah saya lakukan, it`s feel so much more insecure doing solo hike, real adventure. Tampak seperti bermain roller coaster tanpa pengaman. Seruu. And yes, i am an adrenaline junkie.

Hitungan bulan, niatan itu menguap, sampai ada pengaruh kedua. Adalah cerita seorang teman solo trip malam hari ke Garut kemarin selasa ini. Begitu dengar kata solo trip, langsung teringat niat melakukan solo hiking.

Akhirnya sebagaimana bang napi bilang, bukan hanya karena niat tapi karena kesempatan, begitu juga nasib solo hiking ini. Baru hari Kamis ini akhirnya bisa jam 5 sore saya sudah sampai di rumah, gentleman start your engine! Plan : Power nap -> Maghrib -> Survey -> Isya -> Makan malam -> Berangkat!

Sehabis sholat Maghrib, saya mulai survey target pendakian, tampaknya puncak Tangkuban Perahu lewat jalur Jayagiri cukup aman dan saya temukan beberapa blogger sudah pernah melakukan solo hiking disini, juga malam hari.
Kemudian survey rute. Hasil googling, ditambah ym dengan beberapa teman, kesimpulan ada dua rute yang bisa diambil, dari Jaya giri tembus langsung ke Menara Petir (butuh waktu sekitar 3 jam) atau dari hutan Pinus Jayagiri tembus ke parkir bus Tangkuban Perahu (sekitar 3 jam juga, tapi masih dilanjutkan menyusuri jalan ke puncak).

Selesai makan malam, langsung packing kilat. Ransel yang siang harinya diisi laptop langsung berganti isi : p*cari sw**t 2 lt, ponco, sendal, 3 pasang kaos kaki, 2 kaos ganti…, sudah.
Baru sadar, ternyata saya tidak punya senter dan sleeping bag. Kupluk, sarung tangan dan matras *yang masih digunakan waktu hiking terakhir – sekitar hampir setahun yang lalu :D* juga ntah kemana. Mau bongkar lemari, nanti orang rumah curiga.. Ahh,, nanti menyewa saja. Cek isi dompet, ada 100rb, sangat cukup. 🙂

Jam 8 lewat sedikit, perjalanan dimulai. Berangkat dari rumah naik motor, tujuan pertama ke “tend*ku”, tempat persewaan alat2 satu-satunya yang saya tau. Sampai sana ternyata tutup. Oke, nanti beli saja (Pinjam bukan opsi, karena rencananya sebisa mungkin tidak ada yang tahu tentang trip ini), lagipula sekalian beli konsumsi, pikirku.
Sampai di B*rma Setiabudi ternyata uang 85rb yang dibawa nampak sangat kurang (dijalan sempat mengisi bensin 15rb). Rasanya seperti ibu-ibu yang belanja bulanan saja, harus pintar2 pilih item belanjaan yang mana yang benar-benar bermanfaat.
Akhirnya, inilah daftar belanjaan saya : senter + baterai (ini wajib), sarung tangan (karena selain penghangat, bisa buat pelindung saat harus berpegangan pada tanaman), doublem*nt (kunyah2 biar lupa capeknya), dan 2 bungkus “Snick*rs” 55gr (coklat dengan kalori/rupiah yang paling besar disitu :D). Total belanja 65rb rupiah.

Sampai di gerbang depan jayagiri, sepi.. tidak sesuai harapan. Minimal ada yang nongkrong di loket, kek. Atau setidaknya satu dari jejeran warung di depan sana masih buka, untuk nitip motor juga, hehe. Bingung taruh motor dimana, akhirnya motor diparkirin ngasal di pinggir salah satu warung.
Setelah memarkir motor, saya lalu menyalakan hp sebentar buat lihat jam. Jam 09.12. Disebelah jam terlihat juga, batery low 10%, hp langsung saya matikan lagi. Lucu juga ya, disamping persiapan yang sangat seadanya, ternyata saya masih terpikir untuk menghemat baterai hp untuk kondisi emergency, tapi toh akhirnya mati juga. 😀

Jalanan di daerah gerbang masuk Jayagiri cukup lebar, dapat dilewati motor dari 2 arah. Didalam kawasan itu, juga masih dapat dijumpai rumah2 bambu, jalanan masih berpenghuni. Barulah 5-10 menit dari memasuki gerbang kawasan Jayagiri, trek menyempit, cahaya juga semakin gelap karena pohon semakin tebal.
Saya jadi ingat apa yang saya baca tadi, hutan Jayagiri katanya berhantu. ^^, tapi sepertinya suara gonggongan anjing yang sudah terdengar sejak memarkir motor tadi masih terasa lebih menyeramkan.
Saat memasuki jalan hutan itulah timbul pertanyaan, “What i am i doing right now? I think its much better to go back”. Yup, saat itulah goodaan terbesar untuk kembali, mungkin karena masih dekat dengan motor, mungkin juga karena panic attack mendengar gonggongan anjing yang rasanya kok semakin keras saja. Terpikir juga sih bagaimana jika bertemu sekelompok anjing hutan di trek sesempit itu, i really dont have a chance to run.
Dari situ saya teringat, hutan ini bagaikan hidup, kita tidak bisa berfikir terlalu keras untuk terus menganalisa resiko, yang perlu kita lakukan adalah berjalan maju dan berharap sambil berdoa untuk mendapat yang terbaik. So, i pray a lot and it`s work! I dont meet any of these creature, neither that creature nor “soft” creature. :D.

Trek sampai ke pos terakhir hutan Jayagiri, yaitu lapangan dengan warung bambu di dekat puncak Jayagiri, tidak banyak percabangan. Sesampainya di pos tersebut saya menyalakan hp, jam 10.20. Disitu istirahat dulu kira-kira 1-2 menit, sebelum memasuki daerah yang penuh percabangan, menuju puncak tangkuban perahu.
Tidak lama setelah meneruskan perjalanan, saya sampai perempatan dengan lintasan off-road yang saya sudah baca sebelumnya di sebuah blog, belok kiri ke Cikole, lurus atau kanan ke tangkuban. Saya memilih lurus, dan kembali masuk ke hutan.

Tidak seperti sebelumnya, trek hutan disini memiliki banyak persimpangan. Karena tujuannya langsung ke puncak, jadi setiap ada persimpangan, saya pakai algoritma greedy, jalur paling menanjak curam yang dipilih. Dari situ baru sadar, how bad my navigation skill is, if not nothing. :D.
Untungnya setelah jalur semakin curam, mungkin saat telah berjalan sekitar 2 jam, saya mulai melihat tanda2 dari pendaki sebelumnya, seperti batang-batang tanaman yang patah atau batang pohon terkikis. Alhamdulillah, I am on the right track. :).

Jalur pendakian semakin curam, udara semakin dingin, vegetasi sudah berbeda, saya menemukan satu bunga yang menarik, warnanya putih dan sebesar tangan orang dewasa, bau belerang semakin tercium pekat, saya sudah merasa puncak sudah semakin dekat.
Benar saja, pukul 11.47 saya melihat jelas bangunan tertinggi di gunung tangkuban perahu : Menara petir. Sebenarnya udara yang dingin di puncak sangat membujuk untuk mampir ke dalam bangunan itu, tapi saya putuskan untuk melihat sekitar bangunan itu terlebih dahulu.
Tepat disamping menara petir, ternyata terdapat gubuk bambu tanpa tembok. Seperti saung, tetapi lantainya terbuat dari semen.

Panas tubuh sehabis mendaki membuat saya merasa kuat untuk tidur saja di saung itu, tanpa sleeping bag, tanpa matras. Apalagi disini saya dapat tidur sambil menikmati bulan yang saat itu berbentuk setengah dan bintang-bintang. Damn it`s so beautiful. :).
3 kali saya tidur disaung itu, totalnya mungkin hanya 1 atau 1 1/2 jam. Tepatnya saya tidak tahu karena di puncak tidak punya penunjuk jam lagi, hp saya telah mati ketika akan mengambil foto saung.
Saya mengetahui kira-kira berapa lama disana dari “radio dangdut indonesia” yang memutar acara 11-2 pagi yang terdengar sayup dari dalam menara petir. Dan ketika saya bangun untuk ketiga kalinya dan memutuskan untuk turun gunung, acara tersebut masih diputar.

Saya tidur dan terbangun 3 kali. Untuk tidur pertama, saya melepas kaos kaki dan sarung tangan sebelum tidur, dan mengganti kaos yang penuh peluh dengan kaos lengan panjang, tentunya tetap mengenakan jaket. Baru tidur sebentar saja, sudah terbangun kedinginan.
Sebelum mencoba tidur untuk kedua kalinya, kaos tangan saya pasang kembali, juga saya menggunakan kaos kaki rangkap 2. Kemudian saya eksplor semua barang bawaan di dalam tas. Kaos yang digunakan mendaki saya keluarkan lagi, sekarang berguna sebagai syal. Saya ambil juga kaos ganti satu lagi, untuk menutupi sebagian besar kepala saya, pengganti kupluk. Saya minum p*cari sw**t untuk menambah kalori, dan tidur lagi. Nyenyak…
Tapi masih tetap terbangun.
Sekarang saya sudah kehabisan ide untuk melawan dinginnya udara di puncak. Air minum yang dikeluarkan dari tas dan tidak dimasukan kedalam tas lagi saat terbangun pertama kali, sekarang sudah sedingin air kulkas. Saya ingin makan Snick*rs untuk menambah lagi kalori, tapi tidak jadi, hemat beibb…
Karena dari 2 bungkus yang dibawa sekarang tinggal satu, satu lagi terjatuh ketika mendaki.
Kesal, tapi Alhamdulillah, hanya Snick*rs yang jatuh. Akhirnya saya paksakan untuk tidur lagi dengan kondisi persis dengan tidur kedua dan benar hanya sanggup tidur sebentar saja.

Karena selalu terbangun oleh dinginnya udara di puncak, ditambah sedikit khawatir dengan bau belerang yang menemani saya tidur, saya memutuskan untuk turun gunung saat itu saja.
Ternyata rute turun gunung lebih membingungkan untuk saya. Algoritma greedy mencari yang jalannya paling menurun tidak dapat digunakan, saya sering mendapati dalam percabangan, semuanya jalan setapaknya menuju ke atas. Crap, i lost many time.
Akhirnya saya jalan konsisten saja menjauhi posisi bulan, karena ketika menanjak ke puncak saya mendapati bulan persis dihadapan.
Karena terus menerus tersasar, Jalan menurun yang sebenarnya mempercepat langkah saya, ternyata justru ditempuh hampir 2 kali lebih lama. Setelah lama berjalan saya baru kembali menemukan kelompok bunga putih yang rasanya tidak jauh dari puncak saat mendaki tadi.
Akhirnya setelah sekitar 2 jam berjalan menuruni gunung melewati jalan setapak, saya menemukan jalur berbatu/aspal rusak yang saya kira jalan wisata tangkuban perahu. Tidak mau ambil resiko, saya kemudian mengikuti saja jalur menurun yang lebar itu, sambil menikmati pemandangan lampu kota, Lembang atau Bandung, I am not so sure. 😀

Saya mendengar suara adzan subuh saat masih di tengah hutan, mengikuti jalan itu. Akhirnya saya tahu persis jam berapa sekarang. Tak berapa lama setelah adzan, saya dapat melihat jalan ini jauh didepan akan berbelok ke kiri, dan ada jalan setapak di hutan pinus di kiri jalan yang cukup mudah untuk dilewati, jalan pintas sepertinya.
Setelah menyusuri hutan pinus yang indah itu, akhirnya saya melihat cahaya, Wow, itu pasti gerbang wisata tangkuban perahu. Ketika keluar dari hutan, TET-TOOT, ternyata itu lampu dari rumah warga. Dimanakah saya?

Interaksi pertama saya dengan warga di hari itu dimulai dengan menyenteri cukup lama bapak-bapak yang berjalan berpapasan dengan saya. Kirain benda apa gitu, oh, ternyata bapak-bapak yang mendorong gerobak. Sudah dekat baru kelihatan itu orang.
“Aduh punten pak”, sapa saya. Bapaknya nyaut, “abis kemping dek?”, sedikit basa basi, kemudian langsung saja saya tanya dimana ini dan kemana jalan pulang. 🙂

Saya mengikuti jalan yang disarankan si bapak tadi dan akhirnya muncul di jalan kecil sebelah gerbang berportal bertuliskan Lembang Asri. Lalu meneruskan berjalan kaki ke jalan utama.
Tepat jam 6 saya akhirnya menemukan mesjid untuk solat subuh, sudah dekat dari jalan utama. Kemudian saya lanjut naik angkot ke lembang, naik ojek ke gerbang jayagiri, mengambil motor, dan pulang.

Menyenangkan bisa melakukan perjalanan seperti ini, sampai dipuncak dengan selamat dan pulang dengan selamat. Sedikit evaluasi bagiku, dan saran bagi yang ingin mencoba solo hiking, persiapannya harus lebih baik dari ini. Survey yang lebih baik, agar lebih lama di puncak, setidaknya hingga bisa menikmati sun-rise. 🙂